Pemkab Subang Bertekad Pertahankan Adipura

  • 04 Juni 2018
  • Dibaca: 163 Pengunjung
Pemkab Subang Bertekad Pertahankan Adipura

Pemerintah Kabupaten Subang tahun ini bertekad kembali meraih Piala Adipura.  Menurut Plt. Bupati Subang, H. Ating Rusnatim, SE, dengan adanya pencapaian berupa perolehan Piala Adipura itu harus ada peningkatan. “Minimalnya bertahan. Tahun kemarin kita sudah mendapatkan Piala Adipura kalau tahun ini tidak mendapatkannya berarti ada kemunduran. Jangan sampai ada kemunduran,” ujarnya menegaskan dalam Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia Tingkat Kabupaten Subang, Senin (4/6/2018).

Dalam Kesempatan tersebut Plt. Bupati Subang menghimbau masyarakat agar menjaga kelestarian lingkungan. “Bukan hanya seremonial atau penghargaan, tetapi yang paling penting yang dirasakan oleh masyarakat Subang,” imbuh Plt. Bupati Subang.

Dikatakan Plt. Bupati Subang, tanggung jawab terhadap lingkungan ini harus dilakukan oleh semua komponen masyarakat, termasuk para pegiat lingkungan hidup. “Apabila dilakukan sendiri-sendiri itu agak berat. Sulit mewujudkannya. Jangan sampai ada anggapan ini urusannya Dinas Lingkungan Hidup tetapi harus menjadi urusan kita bersama. Memang leading sektor ada di Dinas Lingkungan Hidup, tetapi tanggung jawabnya harus dimiliki semua sektornya masing-masing,” Tegas Plt. Bupati Subang.

Pada kesempatan tersebut Plt Bupati Subang memberikan penghargaan kepada komponen masyarakat yang terdiri dari komunitas pegiat lingkugan hidup, Babin Kamtibmas, warga masyarakat dan aparat pemerintah yang telah berjasa nyata dalam menjaga lingkungan di wilayah Kabupaten Subang.

Sementara itu dikatakan Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Subang, Yayat Hidayat, tantangan dalam menjaga kelestarian lingkungan hidup di Kabupaten Subang cukup bervariatif. Sehubungan Wilayah Subang terdiri dari pegunugan, pedataran dan pantai. “Seperti kebiasaan menjaga lingkungan di pegunungan tidak bisa dilakukan masyarakat di pantai. Seperti menanam mangrove itu di pantai, bukan berarti mangrove itu ditanam di pegunugan. “Itu artinya kebiasaan menjaga ligkungan harus sesuai dengan karakteristik alam itu sendiri,” paparnya.

Kemudian Yayat juga mengatakan bahwa pihaknya berupaya menjaga tanah dan memelihara hutan supaya tidak gersang, tetapi banyak oknum yang berbuat sebaliknya. “Kita berusaha menanam tetapi ada oknum yang melakukan penebangan. Jadi dengan demikian kita harus memahami dulu karakteristiknya. Kita harus (bisa) memahami bahwa ketika berinteraksi dengan alam ketika alam dirusak maka kita akan rusak juga,” jelasnya.

  • 04 Juni 2018
  • Dibaca: 163 Pengunjung

Berita Terkait Lainnya

Cari Berita