Pasal 2 Ayat (1) UU Keterbukaan Informasi Publik   "Setiap Informasi Publik bersifat terbuka dan dapat diakses oleh setiap Pengguna Informasi Publik"

Informasi Publik

Hak Anda untuk tahu!


  • Sejarah
  • Deskripsi Makna Lambang / Logo
  • Visi dan Misi
  • Tujuan Pembangunan
  • Strategi Pembangunan
  • Letak Geografis
  • Topografi
  • Iklim
  • Demografi

Prasejarah


Bukti adanya kelompok masyarakat pada masa prasejarah di wilayah Kabupaten Subang adalah ditemukannya kapak batu di daerah Bojongkeding (Binong), Pagaden, Kalijati dan Dayeuhkolot (Sagalaherang). Temuan benda-benda prasejarah bercorak neolitikum ini menandakan bahwa saat itu di wilayah Kabupaten Subang sekarang sudah ada kelompok masyarakat yang hidup dari sektor pertanian dengan pola sangat sederhana.
Selain itu, dalam periode prasejarah juga berkembang pula pola kebudayaan perunggu yang ditandai dengan penemuan situs di Kampung Engkel, Sagalaherang.

Hindu

Pada saat berkembangnya corak kebudayaan Hindu, wilayah Kabupaten Subang menjadi bagian dari 3 kerajaan, yakni Tarumanagara, Galuh, dan Pajajaran. Selama berkuasanya 3 kerajaan tersebut, dari wilayah Kabupaten Subang diperkirakan sudah ada kontak-kontek dengan beberapa kerajaan maritim hingga di luar kawasan Nusantara. Peninggalan berupa pecahan-pecahan keramik asal Cina di Patenggeng (Kalijati) membuktikan bahwa selama abad ke-7 hingga abad ke-15 sudah terjalin kontak perdagangan dengan wilayah yang jauh. Sumber lain menyebutkan bahwa pada masa tersebut, wilayah Subang berada di bawah kekuasaan Kerajaan Sunda. Kesaksian Tome’ Pires seorang Portugis yang mengadakan perjalanan keliling Nusantara menyebutkan bahwa saat menelusuri pantai utara Jawa, kawasan sebelah timur Sungai Cimanuk hingga Banten adalah wilayah kerajaan Sunda.


Islam

Masa datangnya pengaruh kebudayaan Islam di wilayah Subang tidak terlepas dari peran seorang tokoh ulama, Wangsa Goparana yang berasal dari Talaga, Majalengka. Sekitar tahun 1530, Wangsa Goparana membuka permukiman baru di Sagalaherang dan menyebarkan agama Islam ke berbagai pelosok Subang.

Kolonialisme

Pasca runtuhnya kerajaan Pajajaran, wilayah Subang seperti halnya wilayah lain di P. Jawa, menjadi rebutan berbagai kekuatan. Tercatat kerajaan Banten, Mataram, Sumedanglarang, VOC, Inggris, dan Kerajaan Belanda berupaya menanamkan pengaruh di daerah yang cocok untuk dijadikan kawasan perkebunan serta strategis untuk menjangkau Batavia. Pada saat konflik Mataram-VOC, wilayah Kabupaten Subang, terutama di kawasan utara, dijadikan jalur logistik bagi pasukan Sultan Agung yang akan menyerang Batavia. Saat itulah terjadi percampuran budaya antara Jawa dengan Sunda, karena banyak tentara Sultan Agung yang urung kembali ke Mataram dan menetap di wilayah Subang. Tahun 1771, saat berada di bawah kekuasaan Kerajaan Sumedanglarang, di Subang, tepatnya di Pagaden, Pamanukan, dan Ciasem tercatat seorang bupati yang memerintah secara turun-temurun. Saat pemerintahan Sir Thomas Stamford Raffles (1811-1816) konsesi penguasaan lahan wilayah Subang diberikan kepada swasta Eropa. Tahun 1812 tercatat sebagai awal kepemilikan lahan oleh tuan-tuan tanah yang selanjutnya membentuk perusahaan perkebunan Pamanoekan en Tjiasemlanden (P & T Lands). Penguasaan lahan yang luas ini bertahan sekalipun kekuasaan sudah beralih ke tangan pemerintah Kerajaan Belanda. Lahan yang dikuasai penguasa perkebunan saat itu mencapai 212.900 ha. dengan hak eigendom. Untuk melaksanakan pemerintahan di daerah ini, pemerintah Belanda membentuk distrik-distrik yang membawahi onderdistrik. Saat itu, wilayah Subang berada di bawah pimpinan seorang kontrilor BB (bienenlandsch bestuur) yang berkedudukan di Subang.

Nasionalisme

Tidak banyak catatan sejarah pergerakan pada awal abad ke-20 di Kabupaten Subang. Namun demikian, Setelah Kongres Sarekat Islam di bandung tahun 1916 di Subang berdiri cabang organisasi Sarekat Islam di Desa Pringkasap (Pabuaran) dan di Sukamandi (Ciasem). Selanjutnya, pada tahun 1928 berdiri Paguyuban Pasundan yang diketuai Darmodiharjo (karyawan kantor pos), dengan sekretarisnya Odeng Jayawisastra (karyawan P & T Lands). Tahun 1930, Odeng Jayawisastra dan rekan-rekannya mengadakan pemogokan di percetakan P & T Lands yang mengakibatkan aktivitas percetakan tersebut lumpuh untuk beberapa saat. Akibatnya Odeng Jayawisastra dipecat sebagai karyawan P & T Lands. Selanjutnya Odeng Jayawisastra dan Tohari mendirikan cabang Partai Nasional Indonesia yang berkedudukan di Subang. Sementara itu, Darmodiharjo tahun 1935 mendirikan cabang Nahdlatul Ulama yang diikuti oleh cabang Parindra dan Partindo di Subang. Saat Gabungan Politik Indonesia (GAPI) di Jakarta menuntut Indonesia berparlemen, di Bioskop Sukamandi digelar rapat akbar GAPI Cabang Subang untuk mengenukakan tuntutan serupa dengan GAPI Pusat.

Jepang

Pendaratan tentara angkatan laut Jepang di pantai Eretan Timur tanggal 1 Maret 1942 berlanjut dengan direbutnya pangkalan udara Kalijati. Direbutnya pangkalan ini menjadi catatan tersendiri bagi sejarah pemerintahan Hindia Belanda, karena tak lama kemudian terjadi kapitulasi dari tentara Hindia Belanda kepada tentara Jepang. Dengan demikian, Hindia Belanda di Nusantara serta merta jatuh ke tangan tentara pendudukan Jepang. Para pejuang pada masa pendudukan Belanda melanjutkan perjuangan melalui gerakan bawah tanah. Pada masa pendudukan Jepang ini Sukandi (guru Landschbouw), R. Kartawiguna, dan Sasmita ditangkap dan dibunuh tentara Jepang.

Merdeka

Proklamasi Kemerdekaan RI di Jakarta berimbas pada didirikannya berbagai badan perjuangan di Subang, antara lain Badan Keamanan Rakyat (BKR), API, Pesindo, Lasykar Uruh, dan lain-lain, banyak di antara anggota badan perjuangan ini yang kemudian menjadi anggota TNI. Saat tentara KNIL kembali menduduki Bandung, para pejuang di Subang menghadapinya melalui dua front, yakni front selatan (Lembang) dan front barat (Gunung Putri dan Bekasi). Tahun 1946, Karesidenan Jakarta berkedudukan di Subang. Pemilihan wilayah ini tentunya didasarkan atas pertimbangan strategi perjuangan. Residen pertama adalah Sewaka yang kemudian menjadi Gubernur Jawa Barat. Kemudian Kusnaeni menggantikannya. Bulan Desember 1946 diangkat Kosasih Purwanegara, tanpa pencabutan Kusnaeni dari jabatannya. Tak lama kemudian diangkat pula Mukmin sebagai wakil residen. Pada masa gerilya selama Agresi Militer Belanda I, residen tak pernah jauh meninggalkan Subang, sesuai dengan garis komando pusat. Bersama para pejuang, saat itu residen bermukim di daerah Songgom, Surian, dan Cimenteng. Tanggal 26 Oktober 1947 Residen Kosasih Purwanagara meninggalkan Subang dan pejabat Residen Mukmin yang meninggalkan Purwakarta tanggal 6 Februari 1948 tidak pernah mengirim berita ke wilayah perjuangannya. Hal ini mendorong diadakannya rapat pada tanggal 5 April 1948 di Cimanggu, Desa Cimenteng. Di bawah pimpinan Karlan, rapat memutuskan : 1.Wakil Residen Mukmin ditunjuk menjadi Residen yang berkedudukan di daerah gerilya Purwakarta. 2.Wilayah Karawang Timur menjadi Kabupaten Karawang Timur dengan bupati pertamanya Danta Gandawikarma. 3.Wilayah Karawang Barat menjadi Kabupaten Karawang Barat dengan bupati pertamanya Syafei. Wilayah Kabupaten Karawang Timur adalah wilayah Kabupaten Subang dan Kabupaten Purwakarta sekarang. Saat itu, kedua wilayah tersebut bernama Kabupaten Purwakarta dengan ibukotanya Subang. Penetapan nama Kabupaten Karawang Timur pada tanggal 5 April 1948 dijadikan momentum untuk kelahiran Kabupaten Subang yang kemudian ditetapkan melalui Keputusan DPRD No. : 01/SK/DPRD/1977.

Gambar

Perisai Bersudut Lima
Menggambarkan makna keselamatan negara, bangsa, agama, masyarakat, dan agama

Pohon Beringin Bergelombang 17 Dengan Akar Tunjang Delapan
Menggambarkan aspek sejarah Kabupaten Subang (Kutawaringin); kesatuan bangsa yang berjiwa Pancasila dan semangat Proklamasi 17 Agustus 1945; pemerintahan sebagai pelindung rakyat; dan pelaksanaan pembangunan daerah bidang material maupun spiritual

Benteng Berkepala Lima Serta Benteng Bagian Bawah Berbata Empat dan Lima di Bawah Pohon Beringin
Menggambarkan Pancasila sebagai landasan idiil dan Undang-undang Dasar 1945 yang berkaitan pula dengan makna pembangunan material dan spiritual

Bintang Kuning Bersudut Lima
Menggambarkan karakteristik masyarakat Kabupaten Subang yang selalu bertaqwa kepada Tuhan yang Maha Esa dan mengangungkan agama.

Teks

“Benteng Pancasila”
Menggambarkan warga Kabupaten Subang yang senantiasa membentengi Pancasila sebagai landasan idiil negara dari pihak-pihak yang akan menyelewengkannya. Teks ini juga menggambarkan tekad masyarakat Kabupaten Subang untuk menjadikan Pancasila sebagai benteng mental dalam mencapai masyarakat adil dan makmur yang diridoi Tuhan yang Maha Esa

“Karya Utama Satya Negara”
Menggambarkan keutamaan karya untuk kepentingan negara, bangsa, dan agama

Warna

Kuning mas pada pinggir perisai, pinggir pohon beringin, dan garis pinggir benteng, serta bintang
Menggambarkan keluhuran budi dan kebesaran jiwa

Hijau tua pada dasar perisai
Menggambarkan kesuburan tanah

Coklat
Menggambarkan kawasan pedataran

Hijau muda
Menggambarkan kawasan pegunungan

Biru
Menggambarkan kawasan pantai

Visi

"Terwujudnya Kabupaten Subang sebagai Daerah Agribisnis, Pariwisata, Industri yang Berwawasan Lingkungan dan Religius serta Berbudaya melalui Pembangunan berbasis Gotong Royong pada tahun 2025"

TERWUJUDNYA SUBANG SEBAGAI KABUPATEN YANG BERBASIS GOTONG ROYONG

Misi

Mewujudkan Sumber Daya Manusia yang Berkualitas ;
Meningkatkan Pembangunan Ekonomi Kerakyatan ;
Mewujudkan Prasarana Wilayah yang berkualitas ;
Mewujudkan Lingkungan Hidup yang Asri dan Lestari ;
Mewujudkan Tata Kelola Pemerintahan yang Baik.
Misi 1
Tujuan Pertama
Meningkatkan derajat kesehatan masyarakat dengan indikator Angka Harapan Hidup (AHH),  yang mencapai 67,40 pada tahun 2003 menjadi.....

Sasaran

Menurunnya AKB pada tahun 2009 menjadi 42,12 / 1000 kelahiran anak.
Menurunnya jumlah kasus kematian di masyarakat.
Menurunnya jumlah penyakit sosial dimasyarakat.

Tujuan Kedua
Meningkatkan indeks pendidikan yang terdiri dari Angka Melek Hurup (AMH) menjadi 94,51 % pada tahun 2009 dan rata-rata lamanya sekolah menjadi 7,34 pada tahun 2009.

Sasaran

Meningkatnya angka melanjutkan sekolah, SMP tahun 2009 sebesar 91,40 % dan SMU tahun 2009 sebesar 58,60 %.
Meningkatnya Angka Partisipasi Sekolah (APS) pada tahun 2009, untuk SD sebesar 99,29 %, SMP sebesar 86,13 % SMU sebesar 44,62 % dan Angka Partisipasi Murni (APM) pada tahun 2009 untuk SD 95,70 %, SMP sebesar 74,50 % dan SMU sebesar 49,30 %.
Meningkatnya jangkauan pelayanan pendidikan luar sekolah.

Tujuan Ketiga
Meningkatkan SDM yang berbudaya, produktif, mandiri dan berdaya saing.

Sasaran

Meningkatnya kemampuan SDM dalam bidang agribisnis.
Meningkatnya kemampuan SDM dalam bidang industri, terutama usaha kecil dan menengah serta koperasi.
Meningkatnya kemampuan SDM dalam bidang pariwisata.
Meningkatnya kemampuan SDM dalam bidang pertambangan dan energi.
Meningkatnya produktifitas tenaga kerja.
Meningkatnya kesetaraan gender.
Meningkatnya kreatifitas pemuda dan olah raga.

Tujuan Keempat
Meningkatkan SDM yang berakhlak.

Sasaran

Meningkatkan SDM yang berakhlak.
Misi 2
Tujuan Pertama
Meningkatkan pertumbuhan sektor Riil yang digambarkan dari indeks daya beli masyarakat pada tahun  2009 mencapai 598 ribuan.

Sasaran

Meningkatnya hasil kegiatan agribisnis dan UKM berorientasi pasar, melalui on farm (budi daya) dan off farm (pengolahan) atau proses tanam, petik, olah dan jual.
Meningkatakan jumlah kunjungan wisatawan mancanegara dan nusantara.
Meningkatkan nilai tambah industri hasil pertambangan.
Meningkatnya kualitas infrastruktur dalam rangka mewujudkan kemampuan daya saing daerah.

Tujuan Kedua
Menjaga kelestarian lingkungan dan kualitas lingkungan dalam rangka pembangunan yang berkelanjutan

Sasaran

Terwujudnya pembangunan yang mengacu pada tata ruang.
Terpeliharanya kelestarian lingkungan sebagai dampak pembangunan.
Misi 3
Tujuan Pertama
Terciptanya aparatur pemerintah yang bersih.

Sasaran

Meningkatnya pengawasan dan tindak lanjut pengawasan.
Menurunnya kasus KKN.

Tujuan Kedua
Meningkatnya kinerja pelayanan pemerintah   daerah.

Sasaran

Meningkatnya profesionalitas aparatur.
Terlaksananya akuntabilitas kinerja secara obyektif.
Meningkatnya mutu pelayanan kepada masyarakat.
Misi 4
Tujuan
Meningkatkan daya tarik investasi.

Sasaran

Meningkatnya investasi/penanaman modal baik dalam maupun luar negeri dalam rangka pertumbuhan ekonomi.
Misi 5
Tujuan Pertama
Memberdayakan potensi masyarakat dalam menunjang pembangunan Kabupaten Subang.

Sasaran

Meningkatnya partisipasi masyarakat dalam pembangunan di Kabupaten Subang

Tujuan Kedua
Mengembangkan pola kemitraan antara Pemerintah Daerah dengan Perguruan Tinggi, LSM, pelaku ekonomi dan antar pelaku ekonomi untuk meningkatkan kemampuan daerah.

Sasaran

Meningkatnya kemitraan dan keterkaitan semua stakeholder dalam menunjang pembangunan di Kabupaten Subang.

Strategi Pembangunan Kabupaten Subang

Peningkatan kemampuan SDM untuk membentuk manusia yang Cageur, Bageur, Bener, Pinter Tur Singer.

Pemanfaatan, pemeliharaan dan pengembangan  Potensi Sumber Daya Alam yang spesifik lokalita yang menjadi potensi unggulan daerah untuk kesejahteraan masyarakat.

Peningkatan aparatur yang profesional dalam rangka pelayanan dan pemberdayaan masyarakat.

Penciptaaan iklim usaha yang kondusif melalui debirokratisasi dan deregulasi.

Penegakan Supremasi hukum demi terjaminnya kepastian hukum bagi seluruh pelaku pembangunan.

Penguatan jaringan kemitraan dan Gotong Royong antar warga Subang dan stakeholder lainnya untuk meningkatkan kemampuan daerah.
Kabupaten Subang sebagai salah satu kabupaten di kawasan utara Provinsi Jawa Barat meliputi wilayah seluas 205.176,95 ha atau 6,34 % dari luas Provinsi Jawa Barat. Wilayah ini terletak di antara 107º 31' sampai dengan 107º 54' Bujur Timur dan 6º 11' sampai dengan 6º 49' Lintang Selatan.

Secara administratif, Kabupaten Subang terbagi atas 253 desa dan kelurahan yang tergabung dalam 22 kecamatan. Berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Subang Nomor 3 Tahun 2007 tentang Pembentukan Wilayah Kerja Camat, jumlah kecamatan bertambah menjadi 30 kecamatan.

Batas-batas wilayah administratif Kabupaten Subang adalah di sebelah selatan berbatasan dengan Kabupaten Bandung Barat, di sebelah barat dengan Kabupaten Purwakarta dan Karawang, di sebelah timur dengan Kabupaten Sumedang dan Indramayu dan Laut Jawa yang menjadi batas di sebelah utara
Berdasarkan tofografinya, wilayah kabupaten Subang dapat dibagi ke dalam 3 zona, yaitu :

Daerah Pegunungan (Subang bagian selatan)

Daerah ini memiliki katinggian antara 500-1500 m dpl dengan luas 41.035,09 hektar atau 20 persen dari seluruh luas wilayah Kabupaten Subang. Wilayah ini meliputi Kecamatan Jalancagak, Ciater, Kasomalang, Sagalaherang, Serangpanjang,sebagian besar Kecamatan Jalancagak dan sebagian besar Kecamatan Tanjungsiang.

Daerah Berbukit dan Dataran (Subang bagian tengah)

Daerah dengan ketinggian antara 50 – 500 m dpl dengan luas wilayah 71.502,16 hektar atau 34,85 persen dari seluruh luas wilayah Kabupaten Subang. Zona ini meliputi wilayah Kecamatan Cijambe, Subang, Cibogo, Kalijati, Dawuan, Cipeundeuy, sebagian besar Kecamatan Purwadadi, Cikaum dan Pagaden Barat.

Daerah Dataran Rendah (Subang bagian utara)

Dengan ketinggian antara 0-50 m dpl dengan luas 92.639,7 hektar atau 45,15 persen dari seluruh luas wilayah Kabupaten Subang. Wilayah ini meliputi Kecamatan Pagaden, Cipunagara, Compreng, Ciasem, Pusakanagara, Pusakajaya Pamanukan, Sukasari, Legonkulon, Blanakan, Patokbeusi, Tambakdahan, sebagian Pagaden Barat.
Tingkat kemiringan dan Iklim Dilihat dari tingkat kemiringan lahan, sekitar 80.80 % wilayah Kabupaten memiliki tingkat kemiringan 0° - 17°, 10.64 % dengan tingkat kemiringan 18° - 45° sedangkan sisanya (8.56 % memiliki kemiringan di atas 45 °

Secara umum wilayah Kabupaten Subang beriklim tropis, dalam tahun 2005 curah hujan rata-rata pertahun 2.352 mm dengan jumlah hari hujan 100 hari. Dengan iklim yang demikian, serta ditunjang oleh adanya lahan yang subur dan banyaknya aliran sungai, menjadikan sebagian besar luas tanah Kabupaten Subang digunakan untuk pertanian.
Salah satu modal pembangunan, selain sumber daya alam, ilmu pengetahuan dan teknologi adalah jumlah penduduk dan Sumber Daya Manusia (SDM). Dalam pembangunan yang dibutuhkan adalah SDM yang secara kuantitas mencukupi dan secara kualitas dapat diandalkan atau dengan kata lain SDM yang siap pakai.

Berdasarkan data statistik Subang Dalam Angka, penduduk kabupaten Subang tahun 2010 berjumlah 1.477.483, dengan komposisi 746.148 orang laki-laki dan 731.335 perempuan, dengan tingkat kepadatan penduduk mencapai 714 jiwa per km2. Adapun untuk tingkat kecamatan, Kecamatan Subang merupakan daerah dengan tingkat kepadatan tertinggi yaitu 2.229 jiwa per km2, sedangkan Kecamatan Legonkulon merupakan daerah yang paling rendah tingkat kepadatannya, yaitu 298 jiwa per km2.